Contoh Artikel : Rendahnya Budaya Membaca Masyarakat Indonesia

Ilmu Informatika : Contoh Artikel : Rendahnya Budaya Membaca Masyarakat Indonesia.
Jika kita melihat di dunia barat, tidak jarang orang-orang memegang bahan bacaan dan membacanya. Bahan bacaannyapun beragam, baik itu surat kabar, buku ilmiah, maupun buku fiksi. Dimanapun mereka berada, mereka tetap membaca. Mereka tetap kosentrasi dengan bahan bacaannya walaupun tempatnya begitu ramai, dalam kondisi panas, dan sebagainya. Hal tersebut terjadi karena di dunia barat telah terbiasa dengan budaya membaca. Bahkan jika ingin berangkat ke kantor tidak membaca surat kabar terlebih dahulu, mereka tidak bisa. Nah, bagaimana dengan indonesia? Kenyataan mengatakan bahwa budaya membaca di indonesia sangatlah rendah.

Ada apakah dengan indonesia?
Apa yang menyebabkan faktor minat baca di indonesia sangatlah rendah?
Bagaimana solusi untuk meningkatkan minat baca masyarakat indonesia?

Disini penulis akan menyampaikan faktor-faktor rendahnya minat baca masyarakat indonesia serta solusi untuk mengatasinya.

Penulis pernah mendengar dari seorang Dosen fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam sebuah talkshow bahwa “dari 10.000 orang di indonesia, 1 orang mempunyai minat baca”. berarti minat baca masyarakat indonesia adalah 0,01 %. Hal tersebut sama persis dengan data dari sindo.com bahwa minat baca warga negara Indonesia sangat rendah dan memprihatinkan. Hal ini dibuktikan dengan hasil indeks nasional yang menyebutkan bahwa indeks baca di Indonesia hanya 0,01. Sedangkan rata-rata indeks baca negara maju berkisar antara 0,45 sampai dengan 0,62. Hasil tersebut membuktikan bahwa Indonesia menjadi peringkat ketiga dari bawah untuk minat baca (lihat sindonews.com, 19/09/13). Pepatah mengatakan Buku adaah jendela dunia. Dengan kita membaca buku, mengetahui isi buku, kita akan berwawasan luas serta mengetahui informasi- informasi yang tersebar. Di indonesia, tingkat minat baca sangatlah rendah, mereka lebih memilih mendengar daripada membaca.

Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor, diantaranya:
1. Sejak kecil telah dibiasakan dengan budaya mendengar, bukan membaca. Ketika kita masih kecil, orang tua atau nenek kakek kita sering memberikan kita cerita-cerita tanpa diketahui sumber darimana, karena merekapun juga mengetahui cerita tersebut dari lisan ke lisan. Hal tersebut menjadikan kita terbiasa dengan didongengi daripada diajak untuk membaca.
2. Traumatik masyarakat dengan bacaan yang sulit untuk dipahami. Ketika kita masih dibangku sekolah, kita pasti diwajibkan dengan bahan bacaan dari sekolah. Bahan bacaannya pun terlalu formal, beserta latihan soal yang harus sesuai dengan konteks yang ada di buku. Sehingga ketika kita meliat buku, yang ada di benak kita bahwa buku adalah hal yang membosankan dan buku identik dengan ulangan atau ujian sekolah.

Faktor- faktor itulah yang menjadikan masyarakat enggan untuk membaca, sehingga secara otomatis jika mereka membaca dalam waktu 5 atau 10 menit, mereka akan merasakan ngantuk dan pusing. Karena memang dari awal mereka tidak menginginkan untuk membaca.
Kita tentunya tidak ingin budaya buruk tersebut terus menjamur di masyarakat, banyak para pahlawan kita yang berusaha untuk menumbuhkan minat baca masayarakat, seperti TBM (Taman Baca Masyarkat).

Solusi lain yang perlu kita lakukan adalah :

1. Sebelum kita mengajak orang lain membaca, kita terlebih dahulu membaca. Ketika kita mempromosikan koleksi kita kepada masyarakat, kita terlebih dahulu mengerti isi buku kita. Sehingga ketika masyarakat datang, kita ceritakan kepada mereka tetntang isi buku-buku tersebut, dengan seperti itu mereka akan terarik dengan buku-buku kita.
2. Yakinkan masyarakat bahwa buku merupakan solusi kehidupan. Contoh ada tetangga yang memiliki penyakit kulit, pastikan kita memberikan solusi kepada dia, bahwa di dalam buku terdapat obat untuk mengobati ramuan tersebut. Dengan begitu mereka akan membaca.
3. Sajikan buku-buku yang ringan kepada anak-anak. Di usia anak- anak merupakan usia perkembangan bagi mereka, usia dimana tingkat daya ingat yang tinggi. Jadi kita perlu meyediakan koleksi pada naka-anak dengan bahasa yang mampu dipahami oleh mereka serta sajikan koleksi yang bersifat hiburan. Jika mereka disajikan dengan bahan bacaan yang membosankan, maka seterusnya mindset mereka tetap membosankan.

Minat baca masyarakat indonesia perlu ditingkatkan untuk memberi solusi bagi kehidupan. Walaupun sangat sulit untuk meningkatkan minat membaca masyarakat indonesia, setidaknya kita mampu menyadarkan masyarakat tentang pentingnya membaca. Dorongan dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk membangkitkan minat baca msayarakat indonesia, baik itu dari pemerintah, para guru, lembaga pendidikan serta masyarakat tentunya.

Penulis : Isna Husna Afia
Demikian artikel mengenai Contoh Artikel : Rendahnya Budaya Membaca Masyarakat Indonesia. Semoga bermanfaat untuk sobat semua.
Nikmati Jasa & Layanan yang ada di www.isrul.com, diantaranya:
1. Jasa Pembuatan dan Verifikasi Akun Paypal dengan VCC (Valid 2 atau 3 Tahun)
2. Jual Akun Adsense Non Hosted Indonesia (0899-5832-699)
3. Penulis Tamu di Isrul.com

3 Responses to "Contoh Artikel : Rendahnya Budaya Membaca Masyarakat Indonesia"

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai rendahnya budaya membaca, menurut saya minat baca dalam masyarakat harus ditingkatkan.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai masyarakat yang bisa anda kunjungi di www.lpm.gunadarma.ac.id

    ReplyDelete
  2. sangat sangat rendah minat baca org indonesia...
    mari kita tingkatkan minat baca org indonesia bung . . .

    ReplyDelete

Jika anda bertanya, jangan lupa mencentang "Notify Me" di bagian kanan bawah, agar mendapat pemberitahuan jika pertanyaan anda telah kami jawab.
Terimakasih telah menyempatkan waktu berkomentar...